*CIANJUR, tri TANGTU buana .id* – Aksi unjuk rasa terkait Universal Health Coverage (UHC) dan kepesertaan BPJS Kesehatan kembali mewarnai Cianjur. Sejumlah masa yang mengatasnamakan rakyat, menyuarakan protes langsung ke Kantor Bupati Cianjur.
Mereka menuntut agar seluruh warga Cianjur 100% terjamin kesehatannya melalui program UHC, tanpa ada warga yang tertolak berobat karena masalah administrasi BPJS.
*Rakyat Jadi Nama, Rakyat Juga Yang Bingung*
Namun di tengah riuhnya tuntutan, muncul keresahan. Warga justru merasa “dijual namanya” tapi tidak dilibatkan solusinya.
“Atas nama rakyat terus. Tapi pas BPJS nunggak, yang disuruh bayar siapa? Rakyat juga. Pas demo, yang capek siapa? Rakyat juga. Ujungnya tenang lagi, masalahnya gitu-gitu aja,” ujar Ibu Yayah, 38, warga Cianjur kota.
Hal senada disampaikan Pemimpin Redaksi tri TANGTU buana .id, Nendi Rafael. Ia menilai sudah saatnya semua pihak berhenti menjadikan “rakyat” sebagai tameng.
“Jangan lagi rakyat dikambing hitamkan. Baik oleh pembuat aturan maupun oleh yang berdemo. Rakyat butuh kepastian, bukan panggung,” kata Nendi.
*”Semangat Kuda Kosong” Untuk UHC*
Nendi mengajak semua pihak meneladani semangat “Kuda Kosong” dari legenda Cianjur. Bekerja untuk rakyat, hasilnya nyata, tanpa gaduh.
“Ke Pemkab: Efisiensikan anggaran, pastikan iuran yang nunggak ada solusinya. Jangan sampai ada warga sakit ditolak RS. Ke para pendemo: Sampaikan data. Kawal sampai tuntas. Jangan demo selesai, masalah hilang,” ujarnya.
“Kalau mau seperti Kuda Kosong, ya berjuanglah sampai rakyat benar-benar bisa berobat gratis. Bukan hanya teriak di depan kantor, lalu selesai,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, Pemkab Cianjur belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan masa aksi. Warga berharap ada dialog terbuka agar UHC benar-benar dirasakan, bukan hanya jadi slogan.
N.R














