Oleh: Nendi Rafael – Pimred TRI TANGTU BUANA
Akhir-akhir ini saya miris.
Banyak teman-teman media yang lupa marwahnya. Tugas kita itu kontrol sosial, mencerdaskan bangsa. Tapi sekarang bergeser jadi mencari-cari kesalahan, yang ujung-ujungnya uang.
Padahal yang dicari kesalahannya itu sekolah-sekolah kecil, PKBM, lembaga yang sedang berjuang mencerdaskan anak bangsa.
Saya mengalami sendiri. Ada oknum media menuduh siswa PKBM binaan saya fiktif. Dilaporkan ke Dinas. Alhamdulillah setelah diperiksa, siswa yang dituduh fiktif itu justru sudah lulus dan sudah terima ijazah. Clear. Tidak fiktif.
Pertanyaan saya: Kalau saya balikkan, saya juga bisa mencari kesalahan media tersebut. Sangat mudah. Tapi buat apa?
Apakah kita mau terus seperti ini? Jeruk makan jeruk?
Sesama media sikut-sikutan, yang ketawa siapa? Masyarakat jadi tidak percaya sama media. Harga diri pers jatuh karena ulah segelintir oknum.
Ingat, musuh kita bukan sesama media. Ladang kita masih luas.
Masih banyak korupsi yang belum terungkap. Masih banyak pungli di jalan. Masih banyak mafia tanah, mafia pupuk, rentenir yang mencekik rakyat kecil. Itu yang harus kita beritakan.
Jangan lawan media. Kalau ada sekolah yang salah, bina. Konfirmasi dulu ke pembinanya. Duduk bareng. Jangan main lapor ke Dinas dengan data mentah. Kasihan anak-anak yang mau sekolah.
Saya mengajak semua rekan-rekan media, khususnya di Cianjur, Sukabumi dan Jawa Barat:
Mari kita kembali ke Khitah. Pers itu memanusiakan manusia. Bukan menakut-nakuti manusia.
Kalau ada rekan media yang kesulitan ekonomi, mari kita bantu carikan iklan yang halal, kerjasama yang jelas, bukan dengan cara menuduh dan memeras lembaga pendidikan.
TRI TANGTU BUANAw membuka pintu untuk silaturahmi. Kita ngopi bareng. Jangan cakar-cakaran.
Salam hormat untuk semua insan pers yang masih idealis.
N.R











